Feeds:
Pos
Komentar

Milestone pertama, “Alpha”

Setelah empat bulan lebih berkutat dengan kolaborasi tiga bahasa pemrograman (Python, C/C++, Delphi) untuk membuat sebuah N-Tier Application Framework yang bertujuan untuk mengintegrasikan aplikasi-aplikasi yang saat ini terpisah-pisah dan masih berbasis Client/Server menjadi satu kesatuan dan modular, akhirnya framework yang saya kerjakan selama ini bisa masuk dalam status alpha.

Framework yang dibuat ini menggunakan basis konsep MVC (model-view-controller) dengan harapan manfaat separation of concern yang menyertainya bisa membuat kami lebih mudah mengoptimalkan potensi seluruh anggota dalam teamwork yang ada. Namun demikian, pada implementasinya mungkin tidak bisa disebut sebagai MVC murni. Hal ini disebabkan wujud akhir model pada implementasi dalam sistem ini adalah sebuah persistent class atau dalam RDBMS direpresentasikan sebagai Tabel, karena itu definisi controller senantiasa akan mendeklarasikan ulang field-field yang terdapat dalam sebuah model. Mungkin atas implementasi seperti ini menjadikannya terkesan kurang efisien, namun di sisi lain saya justru menemukan fleksibilitasnya jadi lebih baik terhadap pemenuhan requirement atas modul yang akan dibuat.

Sebuah modul yang dibuat dibuat akan senantiasa dipisahkan dalam tiga bagian utama yaitu Model, Controller, dan View. Dalam kasus lain dapat juga diimplementasikan setidaknya dua bagian (View, Controller). Berikut adalah kilas singkat proses pembuatan sebuah modul (Currency List) dalam sistem baru ini.

Lanjut Baca »

Iklan

Ke Solo

Minggu kemarin saya menyempatkan diri bersama dd” menghadiri acara pernikahan rekan kantor. Pada awalnya sih sempat ngobrol bareng, mau naik mobil atau touring aja numpak motor, pertimbangan naik mobil sih udah jelas, secara relatif lebih aman, bebas dari resiko kehujanan di jalan (maklum sekarang kan masih musim hujan), dan tentu saja si dd” bisa tidur di jalan. Tapi naik motor juga meski menanggung resiko-resiko ataupun mengurangi kenyamanan, ada asyiknya juga. Kalau kita naik motor, kita bisa berangkat barengan yang lain yang sama-sama naik motor. Jadinya kan asyik juga, itung-itung touring, dan refreshing. 🙂

Rupanya kata touring, refreshing kali ini ternyata lebih mujarab, dan mobil pun tersisihkan. Jadilah akhirnya kita berdua naik motor ke solo sekedar menghadiri undangan pernikahan tersebut.

Dan memang ternyata benar-benar mengasyikkan, meski beberapa kali saya sempet berhenti karena mendapati si dd” yang tertidur di boncengan belakang. “Eh… jangan tidur, nanti kalau jatuh gimana coba?“. Duh… saya sendiri heran, sepanjang-panjang umur saya, rasanya hampir tidak pernah saya tidur sementara motor lagi jalan, uniknya si dd” ini bisa seperti itu, bayangkan saja gimana kuatirnya saya kalau-kalau ia tidur lagi sementara mungkin saya tengah melaju dengan kecepatan yang agak tinggu.

Syukurlah semuanya lancar-lancar saja, meski sempat turun hujan sebentar, namun sama sekali tidak mengganggu acara karena hujan turun setiba kami di tempat tujuan dan berhenti saat kami akan pulang. Agak capek memang, namun yang penting kan hati senang, inget lho, kalau hati senang, badan yang capek pun jadi terasa gak capek. 🙂

Handphone Kantor

Sekali lagi ini masih cerita tentang handphone, kemarin saya menerima telepon kantor dari unit produksi lain dengan handphone milik adik saya (kebetulan pas lagi saling tuker). Seperti biasa gak ada yang aneh dalam perbincangan saat itu yang berkisar masalah pekerjaan, si penelepon cerita kalau tadi dia menghubungi nomor saya dan yang ngangkat adik saya, saya jelaskan memang saya tukeran hp dengan adik saya. Sungguh gak ada masalah waktu itu, saya masih bisa bercanda, tertawa-tawa dengan si penelepon, hal yang sudah biasa saya lakukan bila ada user yang menelepon ke handphone.

Masalah yang sesungguhnya muncul ketika tiba di rumah sepulang dari kantor, keluhan-keluhan dari adik saya tentang user yang tadi menelepon itu sangat tidak sopan, ketus, dan membentak-bentak, “…. ini urusan kantor, kalau mau tukeran, lebih baik beli nomor lain dan jangan pakai nomor ini…“.

WHAT??? koq bisa begitu, perasaan tadi gak ada masalah apa-apa kenapa adik saya diperlakukan begitu sama orang kantor? dan sungguh ngawur kata-katanya itu karena handphone itu beserta nomornya milik saya sepenuhnya, sama sekali bukan milik kantor yang diserahterimakan pada saya. hak saya dong, mau saya jual kek, tukeran, atau dibuang pun ya terserah saya. Anehnya lagi, bisa membentak-bentak adik saya, namun koq ya dengan saya bisa tertawa-tawa seolah-olah tidak ada satu kejadian apapun yang aneh. “Ah…. orang yang aneh….“, pikir saya.

Jangan Takut Menjadi Newbie

“Habis sama dosen-nya di ajarinnya begitu, dari FoxPro ke Delphi bisa dikatakan sama saja”

newbie.jpg Sudah beberapa kali saya mendengar hal seperti itu dari rekan-rekan yang bertanya baik secara langsung ataupun via email tentang pemrograman Borland Delphi. Saya jadi teringat, dulu saya pun demikian, selalu berusaha menggunakan analogi dari Clipper untuk belajar Delphi sebelum saya menyadari bahwa itu adalah satu kesalahan yang cukup besar yang telah membuang cukup banyak waktu saya untuk mempelajari Delphi sebagai bahasa baru (saat itu) secara maksimal.

Sebenarnya tidak hanya dalam kasus mempelajari sebuah bahasa pemrograman baru, namun dalam hal-hal lain pun seringkali metode yang kita gunakan adalah menggunakan paradigma dari apa yang pernah kita pelajari sebelumnya kemudian menganalogikan langkah penyelesaian masalah terhadap satu materi baru yang sedang kita pelajari. Bukan hal yang salah memang karena jujur saja saya pun sadar atau tidak sadar terkadang melakukannya, namun cara ini juga seringkali tidak selalu tepat dan dalam beberapa kasus cenderung menghambat learning curve kita dalam mempelajari hal baru tersebut.

Justru terkadang, dengan mencoba menjadi seorang newbie dalam arti kata yang sebenarnya, membuat diri kita sama sekali baru, mengosongkan isi kepala, seperti layaknya seorang anak berusia 6 tahun, akan membuat kita lebih mudah dalam mempelajari konsep-konsep baru yang terdapat dalam materi yang kita pelajari tersebut. Learning Curve-nya meningkat jauh lebih tinggi daripada dengan membuat analogi-analogi atas hal-hal yang pernah kita pelajari sebelumnya.

Jadi, dengan banyaknya hal-hal baru yang muncul di dunia TI saat ini, sebenarnya tidak ada alasan buat kita untuk sulit beradaptasi dengan hal-hal baru tersebut. Selama kita berpegang teguh pada prinsip: “Jangan takut menjadi newbie“. 🙂